Peran Media Massa Dalam Mensukseskan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA)
Penyiaran Digital
/ A / Nurly Meilinda, S.I.Kom, M.I.Kom
|
MUHAMMAD RIEZKO BIMA E.P
07031381320036
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
BUKIT BESAR, PALEMBANG
|
Daftar isi i
Latar belakang 1
Rumusan masalah 2
Landasan Teoritis 3
Analisis pembahasan 4
Kesimpulan 5
Daftar pustaka 6
Latar belakang
|
L
|
ebih
dari satu dekade lalu, para pemimpin ASEAN (Association of South East Asia
Nations) sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada
akhir 2015 lalu. Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa
menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing
di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan
meningkatkan kesejahteraan. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual
barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara
sehingga kompetisi akan semakin ketat.
Masyarakat
Ekonomi ASEAN tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi
juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan
lainnya. Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan
bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya
menghalangi perekrutan tenaga kerja asing. "Pembatasan, terutama dalam
sektor tenaga kerja profesional, didorong untuk dihapuskan," katanya. "Sehingga
pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi
berbagai jabatan serta profesi di Indonesia ataupun sebaliknya”.
Namun
diperlukannya suatu instrument yang dapat menunjang agar terjalin komunikasi
dan melahirkan pengambilan keputusan yang berintegritas sesuai dengan yang di
harapkan. Berkenaan dengan ini secara letak geografis negara-negara ASEAN yang
terdiri dari pegunungan dan launtan memiliki kontur yang sulit di janggkau
belum lagi cuaca yang berubah-ubah. Menuntut untuk melakukan interaksi jarak
jauh. Menurut Nabeel Jurdi dalam bukunya Readings
in mass communication (1983) di sebutkan bahwa “in mass communication, there is no face to face contact “(dalam
komunikasi massa, tidak ada tatap muka antar penerima pesan).
Seperti
yang di ketahui secara umum komunikasi massa merupakan suatu proses penyampaian
informasi yang menggunakan media yang bersifat satu arah. Atau secara
empirisnya Josep A Devito “first,mass
communication is communication addressed to masses, to an extremely large
science. This does not mean that the audience includes all people or everyone
who reads or everyone who waches television; rather mean an audience that is
large and generally rather poorly defined. Second, mass communication is
communication mediated by audio and/or visual transmitter. Mass communication is
perhaps most easly and most logically defined by its form:television,
radio,news paper, magazines,film, books, and tapers”. Jika di terjemahkan
secara bebas bisa berarti, “pertama,
komunikasi massa adalah komunikasi yang di tujukan kepada massa, kepada khalayak
banyak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang
yang menonton televisi, agaknya ini tidak berarti pula bahwa khalayak itu besar
dan pada umumnya agak sukar untuk di definisikan. Kedua, komunikasi massa
adalah komunikasi yang di salurkan pemancar-pemancar yang audio dan atau
visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila
didefinisikan menurut bentuknya( televisi, radio, surat kabar, majalah, film,
buku, dan pita)”.
Secara
garis besar media massa sangat berperan dalam menstimulus masyarakat ASEAN
umumnya dan Indonesia khususnya agar dapat secara konstan mensukseskan MEA.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian di atas (latar belakang) maka dirumuskanlah rumusan masalah
Yaitu:
1) Bagaimana
media massa dapat menstimulus masyarakat Indonesia dalam Pembentukan dan berkontibusi pada pasar
tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Landasan teoritis
Untuk
menjawab dari rumusan masalah, saya menggunakan Diffusion of Innovation Theory
(difusi inovasi). Artikel berjudul The
People’s Choice yang di tulis oleh Paul Lazarfeld, Bernard Barleson, dan H.
Gaudet pada tahun 1944 menjadi titik awal teori disfusi-inovasi. Di dalam teori
ini dikatakan bahwa komunikator yang mendapat pesan dari media massa sangat
kuat untuk mempengaruhi orang-orang. Dengan demikian, adanya inovasi
(penemuan), lalu di sebarkan (difusi) melalui media massa akan kuat
mempengaruhi massa untuk mengikutinya.
Teori ini mendudukkan peran pemimpin
opini dalam mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Artinya, media massa
mempunyai pengaruh yang kuat menyebarkan penemuan baru. Apa lagi penemuan baru
itu kemudian di teruskan oleh para pemuka masyarakat. akan tetapi, difusi –
inovasi juga bisa langsung mengenai khalayaknya. Menurut Rogers dan Shoemaker
(1971) difusi adalah proses dimana
penemuan disebarkan kepada masyarakat yang menjadi anggota sistem sosial.
Sebelum
di temukan air mineral dalam kemasan, masyarakat harus memasak air sebelum di
minum, yang membutuhkan waktu yang cukup lama dan juga tidak fleksibel apabila
sedang dalam perjalanan jauh. Saat ini di televisi sangat gencar diiklankan
tentang airminum dalam kemasan, sesuatu yang baru itu menimbulkan keingin
tahuan masyarakat. Kemudian orang menjadi tahu bahwa ada air mineral dalam
kemasan yang lebih higienis dan praktis.
Kondisi psikologis masyarakat yang selalu suka dengan hal hal yang baru
tersebut sangat di manfaatkan oleh produsen, apalagi dalam masyarakat yang
cenderung sangat konsumtif. Sehingga saat ini air mineral dalam kemasan
tersebut sudah banyak yang mengkonsumsinya. Jadi ada inovasi (air mineral dalam
kemasan), disebarkan melalui media massa (difusi) lalu di pakai oleh masyarakat
(adobter). Jadi di simpulkan, menurut teori ini sesuatu yang baru akan
menimbulkan keingin tahuan masyarakat untuk menggetahuinya. Seseorang yang
menemukan hal baru cenderung untuk menyosialisasikan dan menyebarkan kepada
orang lain. Jadi sangat cocok, penemu ingin menyebarkan sementara orang lain
ingin mengetahuinya. Lalu, di pakailah media massa untuk memperkenalkan
penemuan baru tersebut. Jadi diantara penemu, pemakai dan media massa saling di
untungkan.
Difusi
mengacu pada penyebaran informasi baru, inovasi atau proses baru ke seluruh
masyarakat. inovasi yang di maksud adalah misalnya penemuan lensa kontak,
computer, pengajaran yang lebih baik, pengolahan bercocok tanam yang baik, dan
lain-lain. Adobsi mengacu pada reaksi positif orang terhadap inovasi dan
pemanfaatanya. Hubungannya dengan proses adopsi, Willian McEwen seperti di
kutip Josep A. Devito (1997) mengidentifikasi tiga tahap berikut.
1. Pada
tahap akuisisi informasi orang memperoleh dan memahami informasi tentang
inovasi. Sekedar contoh, seorang dosen belajar tentang rancangan baru untuk
memberi kuliah di kelas yang jumlahnya besar
2. Pada
tahap evaluasi informasi, orang mengevaluasi tentang informasi. Misalnya, dosen
tersebut menyadari bahwa metode baru itu lebih efektif dari pada metode lama.
3. Pada
tahap atau penolakan orang mengadopsi(melaksanakan) atau menolak inovasi.
Misalnya, dosen tersebut mulai mengajar dengan menggunakan metode baru tersebut
Hal
ini berarti bahwa seseorang menolak atau menerima inovasi tidak akan terjadi
secara bersamaan. Paling tidak ada lima tipe adobter yang bisa di lihat pada
gambar di bawah ini.
![]() |
mayoritas awal 

Adobter awal
3% 14% 34% 34% 14% (sumber:JosepA.Devito,97)
Innovator adalah mereka yang pertama
–tama mengadopsi inovasi. Inovator ini belum tentu pencetus gagasan baru,
tetapi merekalah yang memperkenalkan secara cukup luas. Adopter awal
(kadang-kadang dinamai pembawa pengaruh yang sering di perankan oleh pemimpin
opini) melegitimasi gagasan dan membuatnya diterima oleh masyarakat pada
umumnya. Mayoritas awal mengikuti pembawa pengaruh dan melegitimasi lebih jauh
inovasi itu. Mayoritas akhir mengadopsi inovasi agak belakangan. Orang-orang
yang masuk dalam kelompok ini mengikuti pembawa pengaruh (mayoritas awal),
sedangkan kelompok tertinggal (langgards)
adalah kelompok akhir yang mengadopsi inovasi. Bisa jadi mereka akhirnya
menerima inovasi yang sudah diikutioleh tiga kelompok sebelumnya.
Kelima kelompok ini mencakup hampir
100 persen. Bagian sisanya adalah die hard (kepala batu). Kelompok ini tidak
pernah mengadopsi inovasi. Kelompok ini misalnya dosen yang tidak pernah mau
menggunakan metode baru yang lebih efektif dalam proses belajar mengajar atau
juru masak yang tidak pernah menggunakan blender atau food processor. Para
adopter awal ini biasanya berusaha lebih muda pula. Mereka ini memiliki
pekerjaan yang lebih spesialis, lebih empatik dan kurang dogmatis. Mereka juga
kebanyakan lebih terbuka terhadap perubahan, lebih cosmopolitan, dan biasanya
pula pemuka masyarakat.
Analisis Pembahasan
Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang
begitu melimpah baik itu minyak bumi, sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, dan
juga berbagai macam hewan-hewan langka endemic Indonesia seperti, Komodo,
Cendrawasi, orang hutan Sumatra/ Kalimantan, anoa,dll. Akan tetapi sumber daya
manusia yang di miliki Indonesia masih minim pengalaman (daerah terpencil)
untuk mengolah semua sumber daya alam yang ada, dan menjadikanya sebagai surplus bagi negara. Ini
lah yang menjadi pertimbangan pemerintah Indonesia mengambil keputusan untuk
bergabung dalam Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA). Dengan harapan supaya sumber daya alam Indonesia dapat
diolah secara maksimal dan terorganisir secara professional dan membuka peluang
kerja bagi masyarakat Indonesia.
Lalu
apa kaitan semua itu dengan media massa, ya media massa merupakan suatu proses
penyampaian informasi yang menggunakan media yang bersifat satu arah dan dapat
membentuk opini masyarakat atau bahkan merubah perilaku masyarakat. Dalam
sebuah ungkapan terkenalnya, konon Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, pernah
nyatakan kegusarannya tentang betapa besar pengaruh media.” I fear three newspapers more than a hundred
thoushand bayonets”. Saya lebih takut kepada tiga surat kabar daripada
seratus ribu bayonet.
Pernyataan
Bonaparte yang di kenal sebagai ahli siasat perang ini memang tidak berlebihan.
Media massa punya pengaruh dahsyat untuk mempengaruhi pendapat, opini dan
bahkan perilaku seseorang. Dalam ungkapan lain, Malcolm X, aktifis HAM asal
Amerika Serikat pernah berujar,” If you’re not carefull, the newspaper will have
you hating the people who are being oppressed and loving the people who are
doing the oppressing”. Secara tersirat, Malcolm ingin menunjukkan bahwa
media massa, pada dasarnya memiliki kekuatan yang begitu besar. Mengapa
televisi begitu menarik perhatian dan tanpa di sadari membuat kita mengikutinya.
Bagaimana televisi seolah-olah tau kapan jadwal ibu kalian masak di rumah “hay
ibu, masak apa ya kita hari ini?? Hari ini saya akan memasak italiano spaghetti
hmmm, ibu mau tau bagaimana caranya ?? ayo kita memasak bersama” dan dapat
dengan mudah mempengaruhinya.
Lalu
bagaimana media massa dapat menstimulus masyarakat Indonesia dalam Pembentukan dan berkontibusi pada pasar
tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) begitulah bunyi
rumusan masalah. Dan menggunakan Diffusion of innovation Theory (teori disfusi
inovasi) untuk menjawab rumusan masalah tersebut. . Di dalam teori ini
dikatakan bahwa komunikator yang mendapat pesan dari media massa sangat kuat
untuk mempengaruhi orang-orang. Dengan demikian, adanya inovasi (penemuan),
lalu di sebarkan (difusi) melalui media massa akan kuat mempengaruhi massa
untuk mengikutinya seperti contoh demo masak di atas. Dalam hal ini,
keuntungan-keuntungan dari masyarakat ekonomi ASEAN (inovasi), lalu di di
sebarkan melalui media massa (disfusi) dan di terima oleh masyarakat (adobter).
Kekuatan
media Indonesia telah teruji pada era pasca Soeharto. Tingkat kompetensi, baik
dalam kalangan pemodal, maupun dalam kalangan pekerja, telah menyaring mereka
yang dapat bertahan dari mereka yang kalah bersaing. Jumlah koran di Indonesia,
umpamanya, telah melangit setelah dihapuskannya sistem kontrol Orde Baru, Pengalaman selama Orde Baru masih relevan.
Media Indonesia banyak hikmahnya buat media di beberapa negara ASEAN yang
medianya belum sebebas Indonesia, seperti Myanmar, Malaysia, dan Singapura.
Pekerja media Indonesia dapat membantu kawan seprofesinya di sana. Wartawan
Indonesia terkenal bersemangat pada profesinya dan berkomitmen pada peranan
media dalam proses perubahan sosial-politik.
Industri
media sendiri boleh dikatakan makin lama makin global, tanpa dapat dibatasi
lagi pada suatu pasar negara tertentu. Apalagi yang namanya "new media" dengan infrastruktur
digital yang serba mobile itu. Semua di sajikan dengan sedemikian rupa sehingga
apa yang di tampilkan di media massa itulah kebutuhan masyarakat ( konten yang
membangun opini masyarakat terhadap MEA sehingga masyarakat mampu
berkontribusi). Yang jelas, arus bebas tenaga kerja terampil dalam media bisa
membuka peluang kerja yang lebar bagi orang Indonesia sehingga mampu bersaing,
berdasarkan pengalamannya serta pendidikannya, dengan pencari pekerjaan dari
negara ASEAN yang lain. Seorang warga negara Indonesia tamatan universitas di
Indonesia ataupun luar negeri, misalnya, dapat bekerja di seluruh ASEAN.
Kesimpulan
Media massa memang memiliki kemampuan yang besar terhadap
pembangunan Opini Mayarakat dan kemampuan inilah yang di coba oleh para
innovator – innovator untuk menyuarakan semua yang berhubungan dengan
Masyarakat ekonomi ASEAN. Baik itu bidang ekonomi, pendidikan, sosial budaya,
sosial politik, dan teknologi.
Memang
begitu besar dampak dari MEA itu sendiri, dari
latar belakang sudah dijelaskan Ini dilakukan agar daya saing Asean
meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing.
Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan
lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan, membuka batasan-batasan
antar negara ASEAN, batasan – batasan yang di maksud adalah kekakuan untuk
menerima hal yang baru dari negara luar dan masih memandang dirinyalah yang
terbaik dari yang baik lainnya.
Akan
tetapi, perlu adanya gatekeeper yang menjadi portal yang membatasinya. Tidak
semua sendi –sendi negara dapat dengan bebas di suarakan, semua negara ASEAN
harus mencitrakan sebuah etos kerja yang berlaku universal atau minimal yang
berlaku dalam negara yang dituju. Agar apa yang di harapkan dari kebijakan
Masyarakat ekonomi ASEAN dapat terwujud.
Daftar pustaka
Media Online
Media Cetak
Zein, F Mohammad. 2013. Media Massa Terhadap Umat Islam. Jakarta:Pustaka Al-kautsar
Nurudin, 2014. Pengantar
Komunikasi Massa. Jakarta: Rajawali pers.
Ishadi.2014. Media
dan Kekuasaan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Komentar
Posting Komentar