Rangkuman
Buku Merajut Kepemimpinan dan Leadership Smart Motivation
Karya
Erdi Ali dan Donna Deeprose
dirangkum & disusun oleh
Muhammad Riezko Bima Elko Prastyo
07031381320036
Dosen pengasuh
Dr. Raniasa Putra S.IP, M.SI
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi
Universitas Sriwijaya
2015-2016
Penulis
telah merangkum dari berbagai pengalaman selama melaksanakan tugas baik sebagai
pimpinan organisasi juga pengalaman memimpin lembaga, sehingga tulisan ini
merupakan sesuatu yang dapat diaplikasikan oleh setiap orang dalam
berorganisasi.
Tergantung
kita apakah memiliki motivasi yang tinggi atau tidak untuk maju selangkag pada
arah yang benar agar seribu langkah kedepan memiliki arti penting. Katena
sukses adalah proses perjalanan meniti karir, bukan sewaktu tiba di tempatnya.
Oleh katena itu tulisan ini merupakan sebuah renungan, pemikiran, dan harapan
masa depan untuk menyiapkan dan membentuk generasi muda menjadi pemimpin yang
sukses dalam menjalankan amanahnya.
Arti merajut
dari judul yang di sajikan, memberikan arti benang yang berserakan kemudian
disimpul dalam suatu ikatan yang kuat dan serasi, sehingga sulit untuk terutai
dengan cara apapun. Sebatang lidi tidak akan memberikan arti penting kalau
hanya sebuah saja, tetapi kalau di kumpulkan dalan suatu ikatan kuat akan mampu
membersihkan kotoran-kotoran yang berserakan di bumi ini.
Apabila
jiwa kepemimpinan yang di miliku sudah berada dalam satu kesatuan rajutan yang
kuat dan sulit untuk di pisahkan maka terbentuklah seorang pemimpin yang
memiliki kekuatan dan kemampuan, sehingga misi yang diemban dan dipercayakan
oleh lembaga atau organisasi dapat terlaksana dengan lancar. Jadilah ia sebagai
pemimpin yang sukses sebagai khalifatul
fil ardhi atau pemimpin jagad raya atau pemimpin sejatu (true leader)
Makna jiwa,
berdasarkan terjemahan wikipwdia dalam bahasa Indonesia di jelaskan bahwa dalam
berbagai agama dan filsafat, jiwa adalah bagian yang bukan jasmaniah (immaterial) dari seseorang. Biasanya
jiwa di percaya mencakup fikiran dan kepribadian dan sinonim dengan
roh,akal,atau awak diri. Di dalam teologi, jiwa di percaya hidup terus setelah
seorang meninggal dan sebagian agama mengajarkan bahwa tuhan adalah pencipta
jiwa.
Dari
sumber Wikipedia menjelaskan pula bahwa penggunaan istilah jiwa dan roh
seringkali sama, meskipun kata yang pertama lebih sering berhubungan dengan
keduniawian dibandingkan kata yang kedua . jiwa dan psyche bisa juga digunakan
secara sinonimous, meskipin psyche lebih berkonotasi fisik, sedangkan jiwa
berhubungan dekat dengan metafisik
dan agama. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata jiwa
memiliki arti roh manusia (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan
seseorang hidup).
Dari
uraian Al-Ghazali dalam bukunya yang berjudul menejemen hati, disebutkan bahwa
jiwa memiliki persamaan dengan nafsu (an-nafs).
Ia adalah sesuatu yang abstrak yang membentuk diri manusia, yakni nafs al-insan
(jiwa manusia) dan esensinya. Jiwa
manusia adalah konstruksi dari sifat-sifat nafsu yang berbeda-beda sesuai
dengan perbedaan kondisi yang membangunnya. Jika jiwanya tenang berarti berada
di bawah kendalih perintah Allah SWT (an
nafs al-muthamainna).
Ghazali
juga menjelaskan bahwa jiwa yang gelisah karena selalu mengikuti syahwatnya
maka jiwa seperti ini di namakan jiwa yang senantiasa mengencam (an-nafs al- lawwamah). Apabila nafsunya
di biarkan mengembara serta tunduk kepada bisikan-bisikan syaitan maka jiwa tersebut dinamakan jiwa
amarah (an-nafs al-ammarah). Seluruh
nafs tadi merupakan sesuatu yang amat halus yang pada akhirnya pengendaliannya
melalui hati manusia. Maka jiwa dalam bahasan ini berarti sesuati yang
immaterial tetapi ada dan dapat di rasakan keberadaanya yang di miliki oleh
setiap orang termasuk seorang pimpinan. Oleh sebab itu, kita dapat merasakan
adanya perbedaan antara pemimpin yang satu dan pemimpin yang lain, walaupun
secara fisik memiliki kesamaan misalnya berbadan kekar, suara lantang, dan
memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Namun akan memberikan “rasa”atau”aura”
yang berbeda-beda yang dapat dirasakan oleh para pengikutnya. Itulah makna
jiwa.
Arti kepemimpinan, banyak sekali definisi kepemimpinan tetapi
secara umum menyiratkan beberapa unsur yang sama. Menurut Sarros dan Butchatsky
(1996), kepemimpinan dapat di definisikan
sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untk mempengaruhi akvits para
anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan
manfaat individu dan organisasi.
Anderson
(1988) berpendapat bahwa leadership means
using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that
achieve high performance. Pendapat tesebut di terjemah secara bebas sebagai
kepemimpinan berarti menggunakan kekuatan untu memengaruhi pikiran dan tindakan
orang lain sedemikian rupa sehingg mencapai kinerja yang tinggi. Menurut Robbins kepemimpinan sebagai kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok kearah
tercapainya tujuan.
Apa
pengertian dari Ing Ngarso Sung Tuludo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri
Handayani dari Ki Hajar Dewantara?
Kalau pemimpin berada di depan dia harus
menjadi suri teladan atau panutan semua pihak serta konsisten antara kata dan
perbuatan sehingga karakter pimpinan menjadi contoh para bawahannya. Kalau
pemimpin berada di tengah selalu mengajak berbuat baik, menjadi
pelindung,pengayom,dan mampu sebagai penyeimbang. Kalau di belakang adalah
sebagai motivator dan inspirator dengan memberikan kesempatan kepada generasi
muda untuk berkarya tetapi senantiasa tetap melakukan bimbingan,pemantauan agar
organisasi tidak salah arah
Kepemimpinan
berarti melibatkan orang banyak atau pihak lain, yaitu orang yang dipimpin atau
para pengikutnya yang dalam pelaksanaan kerjanya diatur dalam Standard Oprating
Procedure (SOP). Namun demikian timbul pertanyaan, apabila tidak ada bawahan
apakah sama artinya tidak ada yang dipimpin? Menurut penulis tidak, walau
status kita bukan sebagai sebagai pemimpin organisasi, minimal kita adalah
pemimpin keluarga dan lebih mengerucut sebagai pemimpin bagi diri kita sendiri
sadar atau tidak, setiap orang pasti memiliki sifat kepemimpinan tetapi dalam
skope dan level yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kepemimpinan yang menonjol
misalnya memimpin sebuah Negara adidaya yang memiliki jumlah penduduk yang
sangat besar. Ada pula sebagai pemimpin organisasi yang besar, seorang kepala
sekolah dan juga berperan ganda sebagai guru bagi murid-muridnya, serta pelatih
pencak silat juga seorang pemimpin. Mungkin juga berperan sebagai pemimpin
rumah tangga bagi keluarganya dan paling tidak berperan untuk dirinya,sendiri.
Dalam
Al-Ghazali sangat jelas membahas masalah hati (jantung) bahwa makna hati dalam
pembahasan ini, bukan berarti bentuk fisik seonggok daging yang berada di
rongga dada sebelah kiri manusia yang senantiasa berdetak mengalirkan darah ke
seluruh tubuh untuk kelangsungan hidupnya, melainkan sesuatu yang sangat halus
serta tidak kasat mata dan hanya dapat di lihat oleh mata hati (al-bashirah),
dalam bahasa agamanya adalah ‘Qallbu’. Kata hati merupakan sesuatu yang sangat
penting pada setiap diri manusia, sehingga di dalam Al-Quran dan hadist banyak
mengungkapkan hal tersebut. Pada surat Al-Hajj, Allah berfirman “ maka
apakah mereka tidak berjalan di mula bumi, lalu mereka mempunyai hati yang
dengan itu mereka dapat memahami…. (afalam yasiiruu fil ardhi fatakuunaluhum
quluubun ya’qiluun…)” (QS
Al-hajj,22;46).
Kesuksesan
seorang pemimpin memiliki berbagai ukuran atau variable yang berbeda-beda,
terlebih lagi kalau di terjemahkan oleh masing-masing pemimpin itu sendiri.
Namun demikian dalam kaitannya dengan organisasi, seorang pemimpin yang sukses
adalah yang mampu memberikan kontribusi lebih bagi lembaganya dan sekaligus
tanpa meninggalkan kepentingan duniawi bagi dirinya dan keluarganya. Dalam
meniti perjalanan sebagai seorang pemimpin perlu keseimbangan dan harmoni
dengan menciptakan ketentraman dan rasa kasih saying (sakinah mawarddah warrahmah) di rumah tangga sekaligus adanya
ketentraman dan rasa kasih saying dalam kehidupan organisasinya. Dengan
demikian di harapkan pelaksanaan tugas sebagai khalifah, dapat diakhiri dengan
khusnul khotimah terutama dalam pandangan sang khalik, karena kalau dari
pandangan manusia sangatlah relative.
Makna
kepemimpinan, berhasilnya sebuah organisasi mencapai misi dan visinya akan
sangat tergantung kepada figure pemimpin yang tepat untuk memimpin lembaga atau
organisasi tersebut. Seorang yang telah lama berada di daerah nyaman (comfort
zone) mungkin akan mengalami kendala atau kesulitan apabila di berikan tugas di
tempat yang penuh tantangan, karena daerah tersebut memerlukan seorang yang
agresif tetapi hati – hati serta memiliki keberanian untuk memberikan keputusan
cepat dan akurat.
Tentunya,
bukan berarti mereka tidak akan berhasil memimpin organisasi tersebut, tetapi
paling tidak memerlukan waktu dan harus melakukan pembelajaran dan penyesuaian
terhadap lingkungan baru yang sangat berbeda dengan tempat bertugas sebelumnya.
TEORI KEPEMIMPINAN
1. Trait theory (teori
sifat), yang menitikberatkan pada ”siapa”
dengan karakteristik yang dimilikinya berbeda dengan orang kebanyakan
seperti ambisius,orator,ahli startegi,berani, dan memiliki kemampuan
pengendalian masa serta resistance (perlawanan) terhadap stress.
Seseorang dapat menjadi pemimpin pada suatu
organisasi apabila memiliki sifat yang di butuhkan untuk memimpin organisasi
tersebut. Jadi keberhasilan seseorang dalam memimpin sangat di tentukan oleh
sifat kepribadian yang di miliki baik berupa fisik atau psikologisnya. Teori
sifat sudah mulai di tinggalkan dan pada pertengahan tahun 1960-an menekankan
gaya perilaku yang lebih di sukai untuk tipe seorang pemimpin.
2. Behavioral theory (teori
prilaku), yang menitik beratkan kepada “apa” yang di perbuat atau perilaku
termasuk gaya seorang pemimpin. Konsep perilaku hanya mempelajari perilaku
pimpinan saja tanpa melihat kondisi pengikut dan lingkunganya.
Keberhasilan seorang pemimpin sangat di tentukan
oleh perilaku dalam melaksanakan fungsi-fungsi organisasi. Kepemimpinan yang
berdasarkan behavior akan tampak pada cara-cara pribadinya dalam menggambil
keputusan, cara berkomunikasi, cara memotivasi,dan cara-cara lainnya dalam
memimpin. Kebiasaan seorang pemimpin dengan berdoa terlebih dahulu sebelum
memulai aktivitas pagi hari merupakan hal yang positif bagi organisasi. Karena
kebiasaan berdoa mengharapkan yang terbaik di pagi hari, akan berdampak kepada
meningkatnya kepercayaan diri semua unsur organisasi baik pimpinan, maupun
bawahan yang berdampak pula kepada kinerja organisasi.
3. Kepemimpinan situasional,
dikembangkan oleh Paul Herlsey dan Ken Bianchard yang telah memperoleh pengikut
yang kuat khususnya dalam pengembangan manajemen. Kepemimpinan ini adalah
konsep seorang leader yang menyesuaikan kepada kondisi bawahan agar tujuan
organisasi dapat di capai dengan hasil yang maksimal. Tidak jarang dalam
melaksanakan sehari-hari, kita memiliki bawahan yang tidak memiliki kemampuan
dan kemauan (unable and unwilling) untuk mengambil tanggung jawab. Dalam
kondisi ini seorang pemimpin dalam situasi tersebut, harus mampu memaparkan
tugas kepada bawahan. Hal yang penting dalam situasi tersebut, bagaimana level
bawahan mempunyai kemauan untuk berbuat atau melakukan tugasnya, supaya
aktivitas organisasi tetap berjalan walau lamban. Model kepemimpinan ini sangat
mengonsentrasikan perhatian pada pengikutnya karena sebagai pelaksana tugas
organisasi. Kalau dalam organisasi memiliki sumber daya manusia yang mampu dan
mau )able and willing), maka dapat diyakini organisasi dapat berjalan dengan
lancer. Dampak yang di timbulkan oleh kondisi ini akan berpengaruh kepada
pencapaian target yang telah di tetapkan. Oleh karena itu perlu inisiatif
pimpinan dengan melakukan penyesuaian-penyesuaia terhadap kebijakan organisasi,
sehingga memerlukan juga inisiatif keberhati-hatian dalam menangani
permasalahan yang timbul dalam perjalananya agar tidak menimbulkan resiko yang
tinggi serta organisasi dapat berjalan dengan konsisten.
4. Visioner Leadership,
yakni konsep pemimpin yang melihat peluang ke depan dengan melakukan inovasi
fenomenal dari pemimpin yang visioner yaitu Rasullulah SAW. Pada waktu beliau
dilembar dengan batu oleh penduduk Thaif yang sebagian besar adalah suku
Quraisy, sehingga tumit beliau berdarah-darah, datanglah malaikat jibril dan
malaikat gunung menghadap kepada Muhammad atas perintah Allah SWT dan meminta
kepadanya agar memerintahkannya untuk berbuat apa saja yang sesuai dengan
keinginan Rasul karena sudah sedemikian menyedihkan perlakuan mereka terhadap
Rasul. Namun Muhammad SAW tidak ingin mencelakakan penduduk Thaif, karena
beliau memiliki pandangan jauh kedepan. Kalau mereka tidak mau beriman tidaklah
mengapa karena mereka tidak paham, mudah – mudahan generasi mudanya yang akan
menyakini Agama islam.
5. Charismatic Leadership, kepemimpinan
kharismatik dalam mengarahkan pengikutnya untuk mecapai tujuan berdasarkan
charisma yang timbul dari diri pribadi yang bersangkutan.
Kepemimpinan
adalah suatu proses pengarahan yang di sampaikan oleh pimpinan kepada orang
lain untuk mencapai tujuan. Meliputi sumber kekuasaan, gaya kepemimpinan apa
yang di gunakan dan peranan pimpinan dalam mentrasformasikan seluruh potensi
atau sumberdaya (sources) menjadi produk atau jasa yang di gunakan untuk
mencapai goal atautarget organisasi.
Apa
perbedaan kepemimpinan dan manajemen?
kepemimpinan
dan manajemen memiliki arti yang berbeda,
pemimpin sangat erat dengan pandangan jauh kedepan terhadap suatu
pengambangan organisasi walau dengan resiko yang harus di hadapi. Sementara
manajemen adalah melaksanakan aktivitas terkait dengan standar prosedur kerja
yang sudah disepakati sebelumnya dan ditetapkan sesuai wewenang.
namun
secara tersirat manajemen membutuhkan kepemimpinan dan kepemimpinan membutuhkan
manajemen. Oleh karena itu, suatu organisasi yang memberikan hak formal kepada
seorang yang menjalankan organisasinya tidak menjadi jaminan mereka mampu
memimpin dengan efektif. Robbins tidak semua pemimpin adalah manajer
dan juga tidak semua manajer itu pemimpin.
Karakter
apa yang harus di miliki seorang pemimpin?
Abbraham Zaleznik dari sekolah
bisnis Harvard berpendapat “mereka berbeda dalam motivasi, sejarah
pribadi,dan cara berfikir serta bertindak selanjutnya manajer cenderung mengambil
sikap impersonal, jika tidak pasif terhadap tujuan, sedangkan pemimpin
mengambil sikap peribadi dan aktif terhadap tujuan”.
Seorang pemimpin memang di tuntut untuk memiliki banyak kemampuan dan juga
berbagai karakter yang memiliki sifat visionary,educator,innovator,communicator,fasilitator,
dan advisor.
|
Kepemimpinan
|
manajemen
|
|
A. VISIONER: menetapkan
arah dan startegi, lebih pada pengembangan organisasi
|
A. Berkerja
dengan standar oprasi agar dapat mencapai target
|
|
B. BERANI: posisi
beresiko tinggi dan berbahaya karena harus cepat mengambil keputusan dan
akurat
|
B.menghindari resiko apapun, karena sudah ada
standar kerja
|
|
C. SUMBER PERUBAHAN: ssebagai
role model untuk melakukan perubahan, memberikan motivasi dan inspirasi
|
C.kerja suatu proses dengan interaksi dan
orientasi terhadap administrasi
|
|
D.
BERKEPRIBADIAN:
sikap
pribadi yang didiukung dengan personal komitmen
|
D.sikap impersonal (tidak pribadi) komitmen
terhadap organisasi.
|
kompetensi
yang seperti apa yang harus di miliki untuk menjadi pemimpin sejati?
1. Kecerdasan
rohaniah (TQ)
Dalam
menilai keceradan rohaniah kita tidak hanya cukup menelaah pada “apa” yang di katakan
seseorang melainkan “siapa” dan yang sangat utama “bagaimana” manifestasinya
dalam menyatakan “ jangan melihat kepada siapa yang berkata, tapi lihat apa
yang di katakanya”. Kecerdasan rohaniah sangat penting. Karena pemimpin
didalamnya terkandung nilai yang harus di laksanakan secara konsisten dan
komitmen yang kuat lagi dapat di percaya (al amin) atau sebagai uswatun
khasanah sehingga setiap kata sama dengan perbuatannya. Jadi kecerdasan
rohaniah adalah pemahaman yg cerdas terhadap nilai dasar kecerdasan
spriritual(SQ) dan sekaligus pengalamannya. Yakni islam, iman dan ihksan yang
di implementasikan (I) dalam kehidupan sehari-hari. [TQ=SQ+I]
2. Kecerdasan
Emosional (EQ)
Sebagai
makhluk sosial, hubungan antar manusia (hablumminnanas) tidak boleh di nafikan
dan secara agama harus terpelihara dan dibina dengan baik, karena eksistensi
manusia sebagai sumberdaya merupakan human capital yang akan membawa organisasi
menjadi unggul. Dengan kemampuan menguasai hati atau mampu memimpin diri
sendiri di harapkan akan menciptakan sosok pemimpin yang pandai membaca
kondisiyang terjadi pada bawahannya karena memimpin atas dasar nilai kemanusiaan.
Kecerdasan emosional berkaitan dengan
motivasi diri, kemampuan mengelola permasalahan pribadi sekaligus
memisahkan dengan masalah organisasi serta memiliki ketahanan mental menghadapi
kegagalan dalam perjalanan ke pemimpinannya
3. Kecerdasan
intelektual (IQ)
Kecerdasan
ini sangat berkaitan dengan kemampuan sains atau akademisi yakni
analisis,logika,dan rasio. Kemampuan intelektual adalah kemampuan mengolah
informasi yang masuk dan melalui proses berfikir atas dasar sains atau juga
pengalaman seseorang menjadi suatu dasar berpijak untuk menyelesaikan
permaslahan
4. Kecerdasan
Fisik (PQ)
merupakan
kemampuan untuk menggordinasikan dan termasuk body language. Kecerdasan ini
merupakan hal yang penting dalam kepemimpinan tertentu terutama bidang militer.
Apakah
anda seorang pemimpin?
Ada
yang berpendapat dan menyakini bahwa tidak setiap orang dilahirkan menjadi
pemimpin karena pemimpin itu bukan di lahirkan melainkan dibentuk. (leaders
are not born but made). Werren G. Bennis, “para pemimpin dibentuk
dan bukan dilahirkan. Sebenarnya tanpa di sadari bahwa naluri
kepemimpinan sudah merupakan benih yang tumbuh dan berkembang sejak kecil pada
setiap orang. Tinggal bagaimana pemeliharaan dan penyiraman benih tersebut
sehingga terbentuk dan tumbuh menjadi seorang pemimpin.
Apakah
orang yang belum pernah menjadi pemimpin dapat di berikan tugas sebagai
pemimpin?
Jawabanya
iya, karena setiap orang di bekali bakat alah atau fitrah yang ada pada
dirinya. Pertama kali mereka memimpin lebih dominan dengan naluri ketimbang
bersumber dari ilmu pengetahuan dan profesionalisme. Sehingga yakinlah bahwa
setiap orang dapat melaksanakan tugas menjadi pemimpin. Sementara itu pemimpin
yang melalui proses belajar setahap demi tahap dengan bekal ilmu pengetahuan
yang cukup disegala cabang pengetahuan, akan menjadi seorang pemimpin sejati.
Namun demikian bukan berarti seorang pemimpin harus lah seorang ilmuan
(scientist) yang penting adalah dalam pelaksanaan tugasnya sebagai pemimpin,
perlu di kembalikan dalam pokok permasalahan untuk memecahkan masalah.,
Pemimpin harus mampu mengelola lembaga secara
baik dengan selalu menerapkan prinsip good corporate governance (komponennya:
akuntabilitas, responsbilitas, independensi, dan keadilan). Dalam mengelola
lembaga atau organisasi senantiasa mengedepankan nilai – nilai transparency dan
integritas, sebagai wujud tanggung jawab terhadap amanah yang di berikan kepada
pemimpin di seluruh lini, harus dapat dipertanggungjawabkan oleh masing-masing
personil baik secara pelaksanaan (responsibility) atau tanggung jawab akhir
(accountability).
Apa
arti integritas, integritas merupakan manifestasi dari suatu nilai-nilai kejujuran yang
berproses secara utuh dan konsisten.integritas sangat terkait dengan
sifat dan perbuatan yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi “orang
terpercaya”. Lalu integritas seperti apa yang kita miliki sebagai seorang
pemimpin. Fenomena integritas bukanlah hanya sekedar tulisan saja, melainkan
tindakan yang terlahir dari kata yang dideklarasikan yang menjadi suatu
kebutuhan segenap insani baik secara individual atau kelompok. Sehingga, harus
komitmen dari berbagai pihak serta konsisten dalam melaksanakannya.salah satu
hal yang kita camkan dalam diri kita bahwa kita bukanlah yang terbaik maka kita
kembalikanlah kepada sabda Rasullulah Saw,”jika ada seorang yang
berkata, manusia ini semuanya sudah rusak, ‘(dan ia merasa hanya dirinyalah
yang tidak rusak)’ maka ketauhilah bahwa sesungguhnya ia yang paling rusak” (Al-Hadis).
Sebagai pemimpin hendaklah senantiasa menjaga lisannya karena sekali
batu terloncar dari tangan tidak akan adalagi kekuatan yang mampu menghambat
laju batu tersebut, kecual kekuasaan Allah. Berkata benar adalah ciri seorang
pemimpin yang memiliki integritas dan sangat pantang menyakiti hati orang lain.
Dalam
kehidupan seorang pemimpin, apakah itu pemimpin Negara, lembaga, organisasi
atau pemimpin umat, integritas yang terkait dengan kehidupan pribadi (personal
life) sangat penting. Bagaimana seorang pemimpin mampu mengatur suatu
organisasi terlebih lagi sebuah Negara, apabila kurang memiliki nilai-nilai
keluarga dan dalam kehidupan social kemasyarakatan masih diraguka
eksistensinya. “seorang pemimpin yang tidak dapat menjaga family values (nilai
kekeluargaan) dan tidak ada social sensitivity terhadap lingkungannya maka pemimpin
tersebut akan di ragukan untuk memimpin suatu bangsa karena untuk mengurus
masalah kepribadiannya saja tidak dianggap sukses”.
Pendapat
penulis, dalam ajaran agama Islam mempercayai Allah menciptakan Manusia yang
bertujuan untuk menjadi pemimpin di bumi,
“malaikat jibril bertanya ya Allah kenapa engkau menciptakan manusia untuk
menjadi pemimpin di bumi kelak? Kenapa enggau tidak menugaskan kami yang selalu
mengikuti semua ajaranmu dan menjauhi semua larangan mu dan kami tercipta dari
cahaya sedang kan mereka dari segumpal tanah
untuk mengemban tugas itu di bumi? Lalu Allah SWT menjawab “
sesungguhnya tidak lah kami menciptakan sesuatu melainkan hanya untuk
menyembahku”. Lihatlah bagaimana Allah SWT
telah memberikan kita derajat yang mulia untuk menjaga bumi, untuk menjadi
pemimpin di bumi. Tidak lah kita menyadarinya telah di berikannya kita akal
yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Mulai sekarang teruslah
memotivasi diri untuk menjadi pemimpin yang dapat membawa pengikutnya ketujuan
yang di inginkan dan tidak melupakan kita adalah manusia yang bertuhan.
Komentar
Posting Komentar