Langsung ke konten utama

Rangkuman Buku Merajut Kepemimpinan dan Leadership Smart Motivation



Rangkuman Buku Merajut Kepemimpinan dan Leadership Smart Motivation
Karya Erdi Ali dan Donna Deeprose

dirangkum & disusun oleh
Muhammad Riezko Bima Elko Prastyo
07031381320036
Dosen pengasuh
Dr. Raniasa Putra S.IP, M.SI
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi
Universitas Sriwijaya
2015-2016
Penulis telah merangkum dari berbagai pengalaman selama melaksanakan tugas baik sebagai pimpinan organisasi juga pengalaman memimpin lembaga, sehingga tulisan ini merupakan sesuatu yang dapat diaplikasikan oleh setiap orang dalam berorganisasi.
Tergantung kita apakah memiliki motivasi yang tinggi atau tidak untuk maju selangkag pada arah yang benar agar seribu langkah kedepan memiliki arti penting. Katena sukses adalah proses perjalanan meniti karir, bukan sewaktu tiba di tempatnya. Oleh katena itu tulisan ini merupakan sebuah renungan, pemikiran, dan harapan masa depan untuk menyiapkan dan membentuk generasi muda menjadi pemimpin yang sukses dalam menjalankan amanahnya.
Arti merajut dari judul yang di sajikan, memberikan arti benang yang berserakan kemudian disimpul dalam suatu ikatan yang kuat dan serasi, sehingga sulit untuk terutai dengan cara apapun. Sebatang lidi tidak akan memberikan arti penting kalau hanya sebuah saja, tetapi kalau di kumpulkan dalan suatu ikatan kuat akan mampu membersihkan kotoran-kotoran yang berserakan di bumi ini.
Apabila jiwa kepemimpinan yang di miliku sudah berada dalam satu kesatuan rajutan yang kuat dan sulit untuk di pisahkan maka terbentuklah seorang pemimpin yang memiliki kekuatan dan kemampuan, sehingga misi yang diemban dan dipercayakan oleh lembaga atau organisasi dapat terlaksana dengan lancar. Jadilah ia sebagai pemimpin yang sukses sebagai khalifatul fil ardhi atau pemimpin jagad raya atau pemimpin sejatu (true leader)
Makna jiwa, berdasarkan terjemahan wikipwdia dalam bahasa Indonesia di jelaskan bahwa dalam berbagai agama dan filsafat, jiwa adalah bagian yang bukan jasmaniah (immaterial) dari seseorang. Biasanya jiwa di percaya mencakup fikiran dan kepribadian dan sinonim dengan roh,akal,atau awak diri. Di dalam teologi, jiwa di percaya hidup terus setelah seorang meninggal dan sebagian agama mengajarkan bahwa tuhan adalah pencipta jiwa.
Dari sumber Wikipedia menjelaskan pula bahwa penggunaan istilah jiwa dan roh seringkali sama, meskipun kata yang pertama lebih sering berhubungan dengan keduniawian dibandingkan kata yang kedua . jiwa dan psyche bisa juga digunakan secara sinonimous, meskipin psyche lebih berkonotasi fisik, sedangkan jiwa berhubungan dekat dengan metafisik dan agama. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata jiwa memiliki arti roh manusia (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup).
Dari uraian Al-Ghazali dalam bukunya yang berjudul menejemen hati, disebutkan bahwa jiwa memiliki persamaan dengan nafsu (an-nafs). Ia adalah sesuatu yang abstrak yang membentuk diri manusia, yakni nafs al-insan (jiwa manusia) dan esensinya. Jiwa manusia adalah konstruksi dari sifat-sifat nafsu yang berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi yang membangunnya. Jika jiwanya tenang berarti berada di bawah kendalih perintah Allah SWT (an nafs al-muthamainna).
Ghazali juga menjelaskan bahwa jiwa yang gelisah karena selalu mengikuti syahwatnya maka jiwa seperti ini di namakan jiwa yang senantiasa mengencam (an-nafs al- lawwamah). Apabila nafsunya di biarkan mengembara serta tunduk kepada bisikan-bisikan  syaitan maka jiwa tersebut dinamakan jiwa amarah (an-nafs al-ammarah). Seluruh nafs tadi merupakan sesuatu yang amat halus yang pada akhirnya pengendaliannya melalui hati manusia. Maka jiwa dalam bahasan ini berarti sesuati yang immaterial tetapi ada dan dapat di rasakan keberadaanya yang di miliki oleh setiap orang termasuk seorang pimpinan. Oleh sebab itu, kita dapat merasakan adanya perbedaan antara pemimpin yang satu dan pemimpin yang lain, walaupun secara fisik memiliki kesamaan misalnya berbadan kekar, suara lantang, dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Namun akan memberikan “rasa”atau”aura” yang berbeda-beda yang dapat dirasakan oleh para pengikutnya. Itulah makna jiwa.
        Arti kepemimpinan,  banyak sekali definisi kepemimpinan tetapi secara umum menyiratkan beberapa unsur yang sama. Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), kepemimpinan dapat di definisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untk mempengaruhi akvits para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.
Anderson (1988) berpendapat bahwa leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance. Pendapat tesebut di terjemah secara bebas sebagai kepemimpinan berarti menggunakan kekuatan untu memengaruhi pikiran dan tindakan orang lain sedemikian rupa sehingg mencapai kinerja yang tinggi. Menurut Robbins kepemimpinan sebagai kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok kearah tercapainya tujuan.
Apa pengertian dari Ing Ngarso Sung Tuludo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani dari Ki Hajar Dewantara?
 Kalau pemimpin berada di depan dia harus menjadi suri teladan atau panutan semua pihak serta konsisten antara kata dan perbuatan sehingga karakter pimpinan menjadi contoh para bawahannya. Kalau pemimpin berada di tengah selalu mengajak berbuat baik, menjadi pelindung,pengayom,dan mampu sebagai penyeimbang. Kalau di belakang adalah sebagai motivator dan inspirator dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkarya tetapi senantiasa tetap melakukan bimbingan,pemantauan agar organisasi tidak salah arah
Kepemimpinan berarti melibatkan orang banyak atau pihak lain, yaitu orang yang dipimpin atau para pengikutnya yang dalam pelaksanaan kerjanya diatur dalam Standard Oprating Procedure (SOP). Namun demikian timbul pertanyaan, apabila tidak ada bawahan apakah sama artinya tidak ada yang dipimpin? Menurut penulis tidak, walau status kita bukan sebagai sebagai pemimpin organisasi, minimal kita adalah pemimpin keluarga dan lebih mengerucut sebagai pemimpin bagi diri kita sendiri sadar atau tidak, setiap orang pasti memiliki sifat kepemimpinan tetapi dalam skope dan level yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kepemimpinan yang menonjol misalnya memimpin sebuah Negara adidaya yang memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Ada pula sebagai pemimpin organisasi yang besar, seorang kepala sekolah dan juga berperan ganda sebagai guru bagi murid-muridnya, serta pelatih pencak silat juga seorang pemimpin. Mungkin juga berperan sebagai pemimpin rumah tangga bagi keluarganya dan paling tidak berperan untuk dirinya,sendiri.
Dalam Al-Ghazali sangat jelas membahas masalah hati (jantung) bahwa makna hati dalam pembahasan ini, bukan berarti bentuk fisik seonggok daging yang berada di rongga dada sebelah kiri manusia yang senantiasa berdetak mengalirkan darah ke seluruh tubuh untuk kelangsungan hidupnya, melainkan sesuatu yang sangat halus serta tidak kasat mata dan hanya dapat di lihat oleh mata hati (al-bashirah), dalam bahasa agamanya adalah ‘Qallbu’. Kata hati merupakan sesuatu yang sangat penting pada setiap diri manusia, sehingga di dalam Al-Quran dan hadist banyak mengungkapkan hal tersebut. Pada surat Al-Hajj, Allah berfirman maka apakah mereka tidak berjalan di mula bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami…. (afalam yasiiruu fil ardhi fatakuunaluhum quluubun ya’qiluun…)(QS Al-hajj,22;46).
Kesuksesan seorang pemimpin memiliki berbagai ukuran atau variable yang berbeda-beda, terlebih lagi kalau di terjemahkan oleh masing-masing pemimpin itu sendiri. Namun demikian dalam kaitannya dengan organisasi, seorang pemimpin yang sukses adalah yang mampu memberikan kontribusi lebih bagi lembaganya dan sekaligus tanpa meninggalkan kepentingan duniawi bagi dirinya dan keluarganya. Dalam meniti perjalanan sebagai seorang pemimpin perlu keseimbangan dan harmoni dengan menciptakan ketentraman dan rasa kasih saying (sakinah mawarddah warrahmah) di rumah tangga sekaligus adanya ketentraman dan rasa kasih saying dalam kehidupan organisasinya. Dengan demikian di harapkan pelaksanaan tugas sebagai khalifah, dapat diakhiri dengan khusnul khotimah terutama dalam pandangan sang khalik, karena kalau dari pandangan manusia sangatlah relative.
Makna kepemimpinan, berhasilnya sebuah organisasi mencapai misi dan visinya akan sangat tergantung kepada figure pemimpin yang tepat untuk memimpin lembaga atau organisasi tersebut. Seorang yang telah lama berada di daerah nyaman (comfort zone) mungkin akan mengalami kendala atau kesulitan apabila di berikan tugas di tempat yang penuh tantangan, karena daerah tersebut memerlukan seorang yang agresif tetapi hati – hati serta memiliki keberanian untuk memberikan keputusan cepat dan akurat.
Tentunya, bukan berarti mereka tidak akan berhasil memimpin organisasi tersebut, tetapi paling tidak memerlukan waktu dan harus melakukan pembelajaran dan penyesuaian terhadap lingkungan baru yang sangat berbeda dengan tempat bertugas sebelumnya.








TEORI KEPEMIMPINAN
1.      Trait theory (teori sifat), yang menitikberatkan pada ”siapa” dengan karakteristik yang dimilikinya berbeda dengan orang kebanyakan seperti ambisius,orator,ahli startegi,berani, dan memiliki kemampuan pengendalian masa serta resistance (perlawanan) terhadap stress.

Seseorang dapat menjadi pemimpin pada suatu organisasi apabila memiliki sifat yang di butuhkan untuk memimpin organisasi tersebut. Jadi keberhasilan seseorang dalam memimpin sangat di tentukan oleh sifat kepribadian yang di miliki baik berupa fisik atau psikologisnya. Teori sifat sudah mulai di tinggalkan dan pada pertengahan tahun 1960-an menekankan gaya perilaku yang lebih di sukai untuk tipe seorang pemimpin.

2.      Behavioral theory (teori prilaku), yang menitik beratkan kepada “apa” yang di perbuat atau perilaku termasuk gaya seorang pemimpin. Konsep perilaku hanya mempelajari perilaku pimpinan saja tanpa melihat kondisi pengikut dan lingkunganya.
Keberhasilan seorang pemimpin sangat di tentukan oleh perilaku dalam melaksanakan fungsi-fungsi organisasi. Kepemimpinan yang berdasarkan behavior akan tampak pada cara-cara pribadinya dalam menggambil keputusan, cara berkomunikasi, cara memotivasi,dan cara-cara lainnya dalam memimpin. Kebiasaan seorang pemimpin dengan berdoa terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas pagi hari merupakan hal yang positif bagi organisasi. Karena kebiasaan berdoa mengharapkan yang terbaik di pagi hari, akan berdampak kepada meningkatnya kepercayaan diri semua unsur organisasi baik pimpinan, maupun bawahan yang berdampak pula kepada kinerja organisasi.
3.      Kepemimpinan situasional, dikembangkan oleh Paul Herlsey dan Ken Bianchard yang telah memperoleh pengikut yang kuat khususnya dalam pengembangan manajemen. Kepemimpinan ini adalah konsep seorang leader yang menyesuaikan kepada kondisi bawahan agar tujuan organisasi dapat di capai dengan hasil yang maksimal. Tidak jarang dalam melaksanakan sehari-hari, kita memiliki bawahan yang tidak memiliki kemampuan dan kemauan (unable and unwilling) untuk mengambil tanggung jawab. Dalam kondisi ini seorang pemimpin dalam situasi tersebut, harus mampu memaparkan tugas kepada bawahan. Hal yang penting dalam situasi tersebut, bagaimana level bawahan mempunyai kemauan untuk berbuat atau melakukan tugasnya, supaya aktivitas organisasi tetap berjalan walau lamban. Model kepemimpinan ini sangat mengonsentrasikan perhatian pada pengikutnya karena sebagai pelaksana tugas organisasi. Kalau dalam organisasi memiliki sumber daya manusia yang mampu dan mau )able and willing), maka dapat diyakini organisasi dapat berjalan dengan lancer. Dampak yang di timbulkan oleh kondisi ini akan berpengaruh kepada pencapaian target yang telah di tetapkan. Oleh karena itu perlu inisiatif pimpinan dengan melakukan penyesuaian-penyesuaia terhadap kebijakan organisasi, sehingga memerlukan juga inisiatif keberhati-hatian dalam menangani permasalahan yang timbul dalam perjalananya agar tidak menimbulkan resiko yang tinggi serta organisasi dapat berjalan dengan konsisten.
4.      Visioner Leadership, yakni konsep pemimpin yang melihat peluang ke depan dengan melakukan inovasi fenomenal dari pemimpin yang visioner yaitu Rasullulah SAW. Pada waktu beliau dilembar dengan batu oleh penduduk Thaif yang sebagian besar adalah suku Quraisy, sehingga tumit beliau berdarah-darah, datanglah malaikat jibril dan malaikat gunung menghadap kepada Muhammad atas perintah Allah SWT dan meminta kepadanya agar memerintahkannya untuk berbuat apa saja yang sesuai dengan keinginan Rasul karena sudah sedemikian menyedihkan perlakuan mereka terhadap Rasul. Namun Muhammad SAW tidak ingin mencelakakan penduduk Thaif, karena beliau memiliki pandangan jauh kedepan. Kalau mereka tidak mau beriman tidaklah mengapa karena mereka tidak paham, mudah – mudahan generasi mudanya yang akan menyakini Agama islam.
5.      Charismatic Leadership, kepemimpinan kharismatik dalam mengarahkan pengikutnya untuk mecapai tujuan berdasarkan charisma yang timbul dari diri pribadi yang bersangkutan.
Kepemimpinan adalah suatu proses pengarahan yang di sampaikan oleh pimpinan kepada orang lain untuk mencapai tujuan. Meliputi sumber kekuasaan, gaya kepemimpinan apa yang di gunakan dan peranan pimpinan dalam mentrasformasikan seluruh potensi atau sumberdaya (sources) menjadi produk atau jasa yang di gunakan untuk mencapai goal atautarget organisasi.
Apa perbedaan kepemimpinan dan manajemen?
kepemimpinan dan manajemen memiliki arti yang berbeda,  pemimpin sangat erat dengan pandangan jauh kedepan terhadap suatu pengambangan organisasi walau dengan resiko yang harus di hadapi. Sementara manajemen adalah melaksanakan aktivitas terkait dengan standar prosedur kerja yang sudah disepakati sebelumnya dan ditetapkan sesuai wewenang.
namun secara tersirat manajemen membutuhkan kepemimpinan dan kepemimpinan membutuhkan manajemen. Oleh karena itu, suatu organisasi yang memberikan hak formal kepada seorang yang menjalankan organisasinya tidak menjadi jaminan mereka mampu memimpin dengan efektif. Robbins tidak semua pemimpin adalah manajer dan juga tidak semua manajer itu pemimpin.
Karakter apa yang harus di miliki seorang pemimpin?
Abbraham Zaleznik dari sekolah bisnis Harvard berpendapat  “mereka berbeda dalam motivasi, sejarah pribadi,dan cara berfikir serta bertindak selanjutnya  manajer cenderung mengambil sikap impersonal, jika tidak pasif terhadap tujuan, sedangkan pemimpin mengambil sikap peribadi dan aktif terhadap tujuan”. Seorang pemimpin memang di tuntut untuk memiliki banyak kemampuan dan juga berbagai karakter yang memiliki sifat visionary,educator,innovator,communicator,fasilitator, dan advisor.

Kepemimpinan
manajemen
A.    VISIONER: menetapkan arah dan startegi, lebih pada pengembangan organisasi
A.    Berkerja dengan standar oprasi agar dapat mencapai target
B.     BERANI: posisi beresiko tinggi dan berbahaya karena harus cepat mengambil keputusan dan akurat
B.menghindari resiko apapun, karena sudah ada standar kerja
C.     SUMBER PERUBAHAN: ssebagai role model untuk melakukan perubahan, memberikan motivasi dan inspirasi
C.kerja suatu proses dengan interaksi dan orientasi terhadap administrasi
D.    BERKEPRIBADIAN: sikap pribadi yang didiukung dengan personal komitmen
D.sikap impersonal (tidak pribadi) komitmen terhadap organisasi.


kompetensi yang seperti apa yang harus di miliki untuk menjadi pemimpin sejati?
1.      Kecerdasan rohaniah (TQ)
Dalam menilai keceradan rohaniah kita tidak hanya cukup menelaah pada “apa” yang di katakan seseorang melainkan “siapa” dan yang sangat utama “bagaimana” manifestasinya dalam menyatakan “ jangan melihat kepada siapa yang berkata, tapi lihat apa yang di katakanya”. Kecerdasan rohaniah sangat penting. Karena pemimpin didalamnya terkandung nilai yang harus di laksanakan secara konsisten dan komitmen yang kuat lagi dapat di percaya (al amin) atau sebagai uswatun khasanah sehingga setiap kata sama dengan perbuatannya. Jadi kecerdasan rohaniah adalah pemahaman yg cerdas terhadap nilai dasar kecerdasan spriritual(SQ) dan sekaligus pengalamannya. Yakni islam, iman dan ihksan yang di implementasikan (I) dalam kehidupan sehari-hari. [TQ=SQ+I]
2.      Kecerdasan Emosional (EQ)
Sebagai makhluk sosial, hubungan antar manusia (hablumminnanas) tidak boleh di nafikan dan secara agama harus terpelihara dan dibina dengan baik, karena eksistensi manusia sebagai sumberdaya merupakan human capital yang akan membawa organisasi menjadi unggul. Dengan kemampuan menguasai hati atau mampu memimpin diri sendiri di harapkan akan menciptakan sosok pemimpin yang pandai membaca kondisiyang terjadi pada bawahannya karena memimpin atas dasar nilai kemanusiaan. Kecerdasan emosional berkaitan dengan  motivasi diri, kemampuan mengelola permasalahan pribadi sekaligus memisahkan dengan masalah organisasi serta memiliki ketahanan mental menghadapi kegagalan dalam perjalanan ke pemimpinannya



3.      Kecerdasan intelektual (IQ)
Kecerdasan ini sangat berkaitan dengan kemampuan sains atau akademisi yakni analisis,logika,dan rasio. Kemampuan intelektual adalah kemampuan mengolah informasi yang masuk dan melalui proses berfikir atas dasar sains atau juga pengalaman seseorang menjadi suatu dasar berpijak untuk menyelesaikan permaslahan
4.      Kecerdasan Fisik (PQ)
merupakan kemampuan untuk menggordinasikan dan termasuk body language. Kecerdasan ini merupakan hal yang penting dalam kepemimpinan tertentu terutama bidang militer.                                         

Apakah anda seorang pemimpin?
Ada yang berpendapat dan menyakini bahwa tidak setiap orang dilahirkan menjadi pemimpin karena pemimpin itu bukan di lahirkan melainkan dibentuk. (leaders are not born but made). Werren G. Bennis, “para pemimpin dibentuk dan bukan dilahirkan. Sebenarnya tanpa di sadari bahwa naluri kepemimpinan sudah merupakan benih yang tumbuh dan berkembang sejak kecil pada setiap orang. Tinggal bagaimana pemeliharaan dan penyiraman benih tersebut sehingga terbentuk dan tumbuh menjadi seorang pemimpin.
Apakah orang yang belum pernah menjadi pemimpin dapat di berikan tugas sebagai pemimpin?
Jawabanya iya, karena setiap orang di bekali bakat alah atau fitrah yang ada pada dirinya. Pertama kali mereka memimpin lebih dominan dengan naluri ketimbang bersumber dari ilmu pengetahuan dan profesionalisme. Sehingga yakinlah bahwa setiap orang dapat melaksanakan tugas menjadi pemimpin. Sementara itu pemimpin yang melalui proses belajar setahap demi tahap dengan bekal ilmu pengetahuan yang cukup disegala cabang pengetahuan, akan menjadi seorang pemimpin sejati. Namun demikian bukan berarti seorang pemimpin harus lah seorang ilmuan (scientist) yang penting adalah dalam pelaksanaan tugasnya sebagai pemimpin, perlu di kembalikan dalam pokok permasalahan untuk memecahkan masalah.,
 Pemimpin harus mampu mengelola lembaga secara baik dengan selalu menerapkan prinsip good corporate governance (komponennya: akuntabilitas, responsbilitas, independensi, dan keadilan). Dalam mengelola lembaga atau organisasi senantiasa mengedepankan nilai – nilai transparency dan integritas, sebagai wujud tanggung jawab terhadap amanah yang di berikan kepada pemimpin di seluruh lini, harus dapat dipertanggungjawabkan oleh masing-masing personil baik secara pelaksanaan (responsibility) atau tanggung jawab akhir (accountability).
Apa arti integritas, integritas merupakan manifestasi dari suatu nilai-nilai kejujuran yang berproses secara utuh dan konsisten.integritas sangat terkait dengan sifat dan perbuatan yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi “orang terpercaya”. Lalu integritas seperti apa yang kita miliki sebagai seorang pemimpin. Fenomena integritas bukanlah hanya sekedar tulisan saja, melainkan tindakan yang terlahir dari kata yang dideklarasikan yang menjadi suatu kebutuhan segenap insani baik secara individual atau kelompok. Sehingga, harus komitmen dari berbagai pihak serta konsisten dalam melaksanakannya.salah satu hal yang kita camkan dalam diri kita bahwa kita bukanlah yang terbaik maka kita kembalikanlah kepada sabda Rasullulah Saw,”jika ada seorang yang berkata, manusia ini semuanya sudah rusak, ‘(dan ia merasa hanya dirinyalah yang tidak rusak)’ maka ketauhilah bahwa sesungguhnya ia yang paling rusak” (Al-Hadis). Sebagai pemimpin hendaklah senantiasa menjaga lisannya karena sekali batu terloncar dari tangan tidak akan adalagi kekuatan yang mampu menghambat laju batu tersebut, kecual kekuasaan Allah. Berkata benar adalah ciri seorang pemimpin yang memiliki integritas dan sangat pantang menyakiti hati orang lain.
Dalam kehidupan seorang pemimpin, apakah itu pemimpin Negara, lembaga, organisasi atau pemimpin umat, integritas yang terkait dengan kehidupan pribadi (personal life) sangat penting. Bagaimana seorang pemimpin mampu mengatur suatu organisasi terlebih lagi sebuah Negara, apabila kurang memiliki nilai-nilai keluarga dan dalam kehidupan social kemasyarakatan masih diraguka eksistensinya. “seorang pemimpin yang tidak dapat menjaga family values (nilai kekeluargaan) dan tidak ada social sensitivity terhadap lingkungannya maka pemimpin tersebut akan di ragukan untuk memimpin suatu bangsa karena untuk mengurus masalah kepribadiannya saja tidak dianggap sukses”.

Pendapat penulis, dalam ajaran agama Islam mempercayai Allah menciptakan Manusia yang bertujuan untuk menjadi pemimpin di bumi, “malaikat jibril bertanya ya Allah kenapa engkau menciptakan manusia untuk menjadi pemimpin di bumi kelak? Kenapa enggau tidak menugaskan kami yang selalu mengikuti semua ajaranmu dan menjauhi semua larangan mu dan kami tercipta dari cahaya sedang kan mereka dari segumpal tanah   untuk mengemban tugas itu di bumi? Lalu Allah SWT menjawab “ sesungguhnya tidak lah kami menciptakan sesuatu melainkan hanya untuk menyembahku”.   Lihatlah bagaimana Allah SWT telah memberikan kita derajat yang mulia untuk menjaga bumi, untuk menjadi pemimpin di bumi. Tidak lah kita menyadarinya telah di berikannya kita akal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Mulai sekarang teruslah memotivasi diri untuk menjadi pemimpin yang dapat membawa pengikutnya ketujuan yang di inginkan dan tidak melupakan kita adalah manusia yang bertuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

VARIOUS ARTIS INDOMETAL

1. JUMBO JET – “Ambisi” ( eng. 'Ambition' ) 2. ROH HALUS – “Kebiadaban Moral” ( eng. 'Immorality' ) 3. BETRAYER – “Bendera Kuning” ( eng. 'Flag Of Death' ) 4. BANANA SPLIT – “Super Men” 5. TENGKORAK – “Konflik” ( eng. 'Conflict' ) 6. NORTH BATAVIA – “Hilang” ( eng. 'Gone' ) 7. GODLESS – “Kalifah Alambaka” ( eng. 'Hell Wanderer' ) 8. GRIGGER – “Provokasi” ( eng. 'Provocation' ) 9. SIKSAKUBUR – “Potongan Organtubuh” ( eng. 'Chopped Flesh' ) 10. PANIC DISORDER – “Serpihan Tubuh Membusuk” ( eng. 'Corned Rottenatomy' ) 11. AAARGH – “Eviliturgy” 12. DEATH VOMIT – “Kegelapan” ( eng. 'Darkness' ) 13. GENERATORS – “Biarin” ( eng. 'Let It Be' ) 14. GODZILLA – “Disintegrasi Moral” ( eng. 'Moral Disintegration' ) 15. SOULSICK – “Dalam Keysunyian” ( eng. 'In Silence' ) 16. AFTERTASTE – “Konfrantasi” ( eng. 'Confrontation' ) 17. ALTAR SCREAM – “Tota...

BURGERKILL ENCYCLOPEDIA

Burgerkill is an Indonesian music group formed in May 1995. In early 1997, they released their first song, "Revolt!", which became the opening track in the "Masaindahbangetsekalipisan" compilation. They band named after the American fast food restaurant Burger King . At the end of 1997, songs "Offered Sucks" and "My Self" appeared on Breathless compilation. Then in 1998, their single "Blank Proudness" was included in the Independent Rebel compilation. Since then, Burgerkill has been involved in many underground events in Indonesia and Malaysia . Burgerkill became the first Indonesian metal band to sign a six album contract for Sony Music Entertainment . At the end of 2003, they released their 2nd album, Berkarat . It was chosen as "Best Metal Production" at the 2004 Indonesian Music Awards . Their 3rd album Beyond Coma And Despair was released by their own record label "Revolt! Records" on August 2006. ...